Translate

Rabu, 13 September 2017

PENDETA DAN POLITIK




Syalom saudara-saudara seiman

Sebagai umat Kristen, kita selalu dituntut untuk hidup sesuai prinsip-prinsip kekristenan, dan sebagai jemaat gereja tentu kita akan menjadikan sikap dan tindakan para pemimpin gereja sebagai teladan. Jika pemimpin berbelok ke kanan maka biasanya jemaat yang berbelok ke kiri akan dianggap ‘sesat’, demikian juga sebaliknya, jika pemimpin ke kiri atau keatas dan jemaat yang kearah sebaliknya biasanya akan dipandang sebagai orang yang ‘menyimpang’. Entah apakah jemaat tersebut memang benar-benar sesat atau tidak, menyimpang atau tidak.

Saya lalu bertanya-tanya, apakah pemimpin-pemimpin gereja selalu benar? Dalam hal ini maksud saya adalah gereja sebagai organisasi duniawi, bukan sebagai tubuh Kristus sebab Kristus-lah kepala gereja.

Saya meyakini jika Tuhan akan memakai siapapun yang dikehendaki-Nya untuk bekerja bagi-Nya, apakah kita adalah hamba yang taat ataukah seorang krimanal. Tidak ada yang menjadi halangan bagi setiap orang dimata Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya jika Dia menghendaki. Tetapi, yang ingin saya sorot adalah orang Kristen yang ‘sangat paham sekali’ (pakai banget) tentang dogma Kristiani, dasar-dasar pelayanan Kristen, dan ketentuan gereja lalu kemudian menjadi orang terdepan yang melanggarnya.

Kita tentu tidak asing jika mendengar tentang pendeta yang menjadi politisi, atau menjadi tim sukses seorang politikus, atau bahkan anggota partai politik. Tidak menjadi masalah jika kemudian mereka mengundurkan diri dari tugas-tugas pelayanan gereja, mungkin memang talenta dan panggilan mereka memang dibidang politik. Tetapi, bagaimana jika mereka menjalani aktifitas yang dikenal dalam perpolitikan Indonesia dengan sebutan “rangkap jabatan”?

Masih banyak yang bertanya-tanya, apakah orang Kristen diperbolehkan berpolitik?

Menurut pandangan saya, orang Kristen diperbolehkan untuk berpolitik, karena politik sudah dikenal dalam Alkitab, sebab Alkitab juga mengenal sistem demokrasi. Bedanya, demokrasi di Alkitab bukanlah demokrasi liberal. Lalu, apakah sebuah demokrasi bisa dijalankan tanpa politik? Well, jangankan demokrasi, sistem komunisme dan bahkan sistem monarki absolut saja memerlukan politik. Jadi, jawabannya orang Kristen diijinkan terjun ke dunia politik.

Menjadi orang politikus sama bolehnya dengan menjadi musisi atau entertainer. Seorang politikus Kristen boleh bekerja dalam pemerintahan yang menerapkan system demokrasi liberal dan sekuler, dan bahkan sistem pemerintahan Syariah Islam, sama seperti seorang musisi dan entertainer Kristen yang mengeluarkan karya-karya sekuler mereka. Yang tidak diperbolehkan adalah menjadi pembawa-pembawa liberalisme dan sekulerisme dalam gereja.

Lalu, jika para politikus Kristen melakukan kesalahan, kira-kira siapakah yang mengkoreksi mereka? Tentu saja sebagai saudara-saudara seiman kitalah yang harus mengkoreksi dan mendoakan mereka.

Diatas para jemaat, siapakah yang ‘paling wajib’ sebagai ‘utusan Tuhan’ untuk menegor, mengkoreksi dan mendoakan mereka? Mengenai pertanyaan ini, tentu pikiran kita akan langsung tertuju pada sosok pendeta jemaat kita masing-masing. Pada poin inilah, seorang pendeta Kristen secara luas dilarang terjun ke dunia politik.

Maksudnya, apakah dunia politik tidak bermoral dan tidak Kristiani?

Oh no no…. Tidak demikian. Politik adalah salah-satu ilmu didunia ini yang diciptakan oleh Tuhan.

Menurut pandangan saya, kehadiran politik di dunia sama dengan kehadiran musik sekuler dan karya-karya seni sekuler. Sama-sama diijinkan dan bahkan diciptakan oleh Tuhan. Oleh karena itu saya merasa sangat aneh jika ada orang-orang Kristen yang mengkritik dan mencap musik sekuler, apakah musik Indonesia ataukah K-pop ataukah musik barat sebagai bagian dari kuasa kegelapan dan menyamaratakan semua musisi didunia sebagai pengikut lusifer, dan mengabaikan semua pelayanan mereka pada Tuhan melalui talenta mereka dan karya-karya inspiratif mereka. Tetapi, jika ada salah-satu atau beberapa musisi dan entertainer yang dikritik itu memberikan sumbangan ke gereja, maka kita-pun senang dan menerima sumbangan mereka. Contohnya Michael Jackson. Saya sering membaca buku-buku yang diterbitkan oleh sekte Saksi-saksi Yehuwa, denominasi dimana Michael Jackson dan sebagian besar keluarganya bergabung. Aliran Saksi-saksi Yehuwa sangat menentang kegiatan seni sekuler, apakah itu senimannya atau karya-karya seni sekuler. Tapi….. Catat ya ada tapi-nya, saat Michael Jackson menjadi musisi sukses, beliau lalu menjadi salah-satu donatur terbesar bagi Saksi-saksi Yehuwa. Dan…… Tentu saja sumbangan Michael diterima dengan tangan terbuka.

Ini persis sama dengan saat ada pemimpin-pemimpin gereja yang membawa masuk politik ke dalam gereja dan berteriak di mimbar-mimbar untuk mempromosikan jagoan politiknya atau mendiskreditkan lawan politik jagoannya itu, tetapi saat para pesaing jagoannya itu berkunjung dan memberikan sumbangan maka tangan-pun terbuka dan wajah mereka-pun sumringah.

Melihat hal ini, saya hanya senyum-senyum. Rupanya golongan Farisi, yang persis sama dimasa pelayanan Tuhan Yesus didunia ribuan tahun lalu, masih banyak sekali.

Apa alasan paling mendasar mengapa seorang pendeta tidak boleh berpolitik?

Menurut saya, alasan paling penting adalah karena perbedaan ciri-khas yang sangat mendasar antara dunia politik dengan moralitas yang diterapkan oleh gereja.

Dalam dunia politik, orang-orang akan menggunakan segala cara agar tujuan politiknya tercapai. Berbagai cara yang ingin mereka lakukan itu lalu dipersempit oleh batasan-batasan dalam konstitusi. Tapi, jika cara mereka tidak melanggar konstitusi maka apapun itu bisa dilakukan. Ingat ya, asalkan tidak melanggar undang-undang. Yah, meskipun cara itu ada yang melanggar prinsip-prinsip hidup Kristiani. Pada posisi ini, gereja melalui pemuka-pemuka agama seharusnya menegur oknum politikus tersebut.

Lalu, jika si oknum itu berstatus sebagai pendeta, bisakah dia menegur diri sendiri? Jawabannya bisa, asalkan beliau mau. Tapi biasanya, jangankan mau menegur diri sendiri (pendeknya ‘instropeksi diri’) ditegor pendeta lain saja langsung tersinggung. 

Sebenarnya, penggunaan segala cara untuk mencapai tujuan politik bukanlah ciri-khas yang paling mendasar dalam dunia politik yang bertentangan dengan moralitas yang diterapkan oleh gereja sebab hal itu adalah keputusan masing-masing individu. Kalau mau jujur ya, pakai cara yang lurus, tapi kalau terpaksa menghalalkan segala cara yah itu pilihan, bukan salah dunia politiknya. Tapi, ada ‘satu hal’ dalam dunia politik yang wajib dilakukan oleh setiap politikus namun pantang dilakukan oleh gereja.

‘Hal’ apa itu?

Hmmm… ‘Hal ini’ cukup disebutkan hanya dengan satu kata.

KOMPROMI

Dalam politik, berbagai pihak harus melakukan kompromi agar mengurangi pertentangan, oposisi, dan tentu saja kericuhan. Apakah kericuhan di parlemen, atau kericuhan dalam kabinet presiden, atau kericuhan dalam golongan dan partai sendiri. Intinya bermacam-macam kericuhan dan pertentangan dalam dunia politik harus diselesaikan dengan kompromi. Kenapa? Sebab dalam politik mustahil jika ada satu pihak yang menang sendiri. Menang sendiri itu tidak wajar dan harus dihindari dalam dunia politik, oleh karena itu jalan kompromi wajib ditempuh.

Lalu, bolehkan gereja berkompromi?

Satu kata, TIDAK.

Begini ya, mari kita bedakan antara bekerja sama dan berkompromi. Gereja dari dulu bekerja-sama dengan berbagai pemerintahan dunia. Boleh-boleh saja memang. Tapi, jika pemerintah itu melakukan kesalahan maka gereja pantang berkompromi. 

Hitam ya hitam, putih ya putih. Tidak mungkin kita bisa mendapat cita rasa kopi murni melalui segelas kopi susu.

Asin ya asin, manis ya manis. Tidak mungkin untuk mengecap yang manis-manis dan memakan makanan yang asin lalu kita mendapatkan keduanya sekaligus dengan minum oralit.

Air laut ya air laut, air tawar ya air tawar. Tidak mungkin kita bisa mengambil air payau sebagai air minum dan sekaligus untuk membuat garam.

Berusaha memahami keadaan orang lain dan memberi dukungan moral atau bekerja sama dengan pihak lain sangat berbeda artinya dengan kompromi.

Salah ya salah, benar ya benar. Pemuka gereja tidak boleh berjalan dan berpijak dengan satu kaki di jalan raya dan kaki lainnya di trotoar.

Praktik kompromi inilah yang membuat para pendeta tidak boleh melibatkan diri dalam aktifitas politik dan dilarang membawa politik ke dalam lingkungan gereja, apalagi menjadi politikus, dan jika 'ngebet' ingin menjadi politisi maka semua 'atribut' kependetaan harus ditanggalkan. Memang, sekali ditahbiskan menjadi pendeta maka secara teologis akan selamanya menjadi pendeta. Justru karena itulah alasan terbesar para pendeta harus menjauhi politik.

Gereja dan pendeta-pendeta harus berani mengkoreksi dan pantang berkompromi, bukannya bergabung dalam ruang lingkup yang harus mereka kritisi.


-Devy.R-

----------------------------------------------------------------------------------------------

Rabu, 07 Desember 2016

KAMI MERINDUKANMU, GUS.....




Syalom Gus Dur,

Apakabar mu disana?
Apa yang engkau lakukan sekarang?

Mungkin diatas sana saat kau melirik ke negeri ini, engkau mungkin menangis. 
Namun pastinya, disela-sela tangismu engkau pasti akan tertawa miris sambil menggumamkan kalimat kesukaanmu, "Gitu aja kok repot...."

Lucu memang, tapi jika mendengar dan mengingat kalimat itu lagi, kami menjadi semakin rindu padamu Gus.

Tanpamu, negeri ini memang repot.

Orang banyak semakin repot karena ulah sekelompok orang yang memang hobinya adalah membuat repot.

Dulu, kami bergantung padamu karena engkau menjamin toleransi.
Dulu, kami begitu bangga dengan perbedaan kami karena engkau mengingatkan kembali apa itu kemajemukan.

Sayangnya, engkau pergi terlalu cepat dan jasadmu tidak bisa dibangkitkan apalagi dihidupkan.

Untuk sejenak, pikiran kami kacau dan kaki kami berat melangkah.

Kami takut jika kemajemukan yang engkau teriakkan dulu hanya akan menjadi slogan,
sebab muncul banyak orang yang bahkan mengharamkan kata itu untuk disebutkan.

Tapi puji Tuhan, ada jutaan orang yang membangkitkan semangatmu,
Masih ada jutaan orang yang melanjutkan pekerjaanmu,
Sehingga membuat kami masih memiliki keyakinan bahwa upayamu dulu tidak akan sia-sia dan generasi kami masih dapat menuai hasil dari kerja-kerasmu.

Namun, kami tetap merindukanmu Gus.....


-Devy.R-

Senin, 17 Oktober 2016

Suara Saudara Sebangsa






Kami bukan separatis.

Kami adalah saudara sebangsa.
Kami bersuara karena ada banyak ketidak-adilan yang terjadi pada kami.
Kami hanya ingin adanya persamaan dalam pembangunan dan ekonomi.

Kami juga ingin menikmati kemajuan dan modernisasi seperti yang saudara-saudara lain nikmati.
Kami hanya ingin saudara kami yang terbunuh karena ketidak-adilan agar dipulihkan statusnya, setidaknya ada yang minta maaf pada keluarga mereka.
Kami trauma dengan berbagai kekerasan yang menimpa kami, tapi kami bisa apa?
Hanya bisa diam.
Namun, ada saudara-saudara kami yang lain yang sama traumanya dengan kami lalu membalas kekerasan itu dengan kekerasan juga.
Kami sungguh membenci hal itu dan memohon maaf pada keluarga korban kekerasan saudara-saudara kami itu.

Tapi, mengapa kalian hanya mengingat yang baru terjadi dan melupakan ribuan saudara kami yang mati?

Apalah arti membungkam mulut enam pemimpin negara jika kalian membuat mulut saudara sebangsa-mu berteriak karena ketidak-adilan.

Tapi, apa gunanya suara-suara kami ini?
Toh kami justru dianggap sebagai separatis, bukan sebagai saudara oleh orang-orang yang katanya sebangsa dan setanah air dengan kami, tapi tidak berniat merangkul kami melainkan sibuk memberi bantuan keadilan, kemerdekaan, dan perjuangan atas HAM bagi negara-negara dan bangsa-bangsa yang lain.

Oh Kami Papua....

-Devy.R-


Kamis, 18 Juni 2015

KEPUTUSAN-KEPUTUSAN DALAM HIDUP





Dua hari yang lalu, saya menemani seorang sahabat yang juga merupakan mantan bos saya ke bandara Soekarno-Hatta. Pesawatnya akan take off ke Singapura pada pukul 6 sore sedangkan kami baru berangkat dari hotelnya di kawasan Pecenongan pada pukul 3.35 sore. Hari itu adalah hari Selasa, dan karena bertepatan dengan jam pulang kantor maka jalanan pun mulai ramai. Walaupun beliau adalah warga negara Singapura namun beliau lebih mengenal jalanan Jakarta ketimbang saya. Beliau mengetahui tempat-tempat kuliner yang enak, tempat-tempat sejarah, dan banyak hal lainnya mengenai Jakarta. Saya sering malu. Seringkali saat saya bepergian bersama beliau, entah menggunakan taxi, bus, atau berjalan kaki, beliau akan menunjukkan kepada saya tempat-tempat yang pernah beliau kunjungi. Namun, kali ini dia tidak melakukan hal yang sama karena dia sibuk mengomel, bukan pada saya ataupun tentang saya melainkan mengomel tentang si supir taxi.

Supir taxi mungkin tidak melakukan kesalahan karena dia melewati jalan yang dianggapnya lebih cepat. Namun, kesalahannya pada penumpang (yaitu kami) adalah dia tidak mau mendengarkan pendapat kami. Sahabat saya itu sudah sangat mengenal jalan dari hotelnya menuju ke airport karena dia terlalu sering melewati jalan itu, oleh karena itu, ketika si supir mengambil jalan yang berbeda tentu saja sahabat saya ini protes. Tapi si supir tetap berkeras bahwa kami berada dijalan yang benar. Memang itu adalah jalan yang benar namun sahabat saya berpendapat bahwa jalan itu adalah jalan yang sempit dan karena akan ada banyak kendaraan yang lewat maka sudah pasti kita akan terjebak macet, demikian juga dengan tol nya, karena saat itu adalah jam pulang kerja maka akan ada banyak orang yang berpikiran yang sama dengan si supir untuk menggunakan jalan pintas. Oleh karena itu, sahabat saya menyarankan agar kita berbelok menggunakan jalan yang biasa digunakannya. Namun, si supir menjawab: "Tidak perlu, pak." Saat itulah kekesalan sahabat saya dimulai.

Kami terus menyusuri jalanan yang dipilih oleh si supir. Kami melewati jalanan yang lebih sempit dari jalanan yang biasa kami lewati jika menuju ke airport. Semakin lama, kendaraan disisi kiri dan kanan kami semakin banyak. Sahabat saya ini semakin terlihat gusar karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan akhirnya taksi kami itu pun harus bergerak sangat-sangat lambat.

Telinga saya sungguh panas mendengar omelannya. Sahabat saya terus berkata, "We are in the wrong way!!" atau "he took the wrong way!!" atau "Why he didn't want to listen to me?!!" Setiap kali mendengar omelannya, saya semakin gugup karena saya benar-benar khawatir jika dia nanti terlambat. 

"Because he thougt we are foreigner and you are an old man," jawab saya kepada sahabat saya itu ketika beliau kembali mengomel. Saya juga kaget kenapa saya menjawab seperti itu. Saat mendengar kata 'old man' sahabat saya itu menjadi semakin kesal. Beliau pun mulai mengoceh dan mengoceh. Saya dan dia memang berbeda umur sangat jauh. Umur saya baru 20an sedangkan umurnya sudah 60an. Kekesalannya memuncak saat beliau bertanya pada supir taxi apakah bisa tiba dibandara pada pukul 5 sore, dan supir taxi pun menjawab (sambil memukul stir mobil), "Aduh saya tidak bisa jamin pak." Jawaban si supir itu membuat suasana didalam taxi menjadi semakin riuh karena omelan sahabat saya. Namun, dari sekian banyak omelannya itu, dia mengucapkan satu dua kalimat yang begitu mengena dihati saya.

"Devy, in our life we will always make many decision. Maybe its not always important decision but the problem, is that a good decision or bad decision. If you make a bad decision then the next step is you should turn back to the right decision. This driver, he knows that he is wrong but he keep moving to the wrong direction.... bla bal bla bla......... if you make a wrong decision without fix it and you keep move with that decision then you will make the wrong decision and the wrong decision and the wrong decision again and again and again bla bla bla bla bla bla........ I know I was and I'm right so I don't want to change my mind, he thinks that when he able to arrive to airport then I will change my mind, bla bla bla bla bla bla..... If I know it is wrong then I decide it's wrong...... bla bla bla bla bal bla.... Never ever thinks a wrong things is the right way just because you feel sorry... bla bla bla bla bla...... this driver wants to use the short way, but you should remember Devy, the short way that you think probably is the right way or the better way than the normal way usually is the wrong way! and bla bla bla bla bla bla.........."
Demikianlah ocehan beliau. Masih banyak lagi yang yang diucapkannya namun kalimat-kalimat itulah yang paling saya ingat.

Kami tiba di bandara pada pukul 5.15 sore, dan untungnya sahabat saya masih diijinkan untuk check in dan berangkat. Setelah dia mengabari dari dalam ruangan tunggu bahwa dia bisa berangkat maka saya pun menjadi sangat-sangat lega, dan saya melanjutkan pergi ke terminal 1 (sahabat saya di terminal 2) karena saya telah memiki janji pertemuan dengan beberapa orang di bandara. Sembari menunggu mereka, saya duduk dan memikirkan kembali perjalanan saya dengan sahabat saya tadi, dan juga kata-kata yang diucapkannya.

Dalam dalam perjalanan di kehidupan ini, saya telah membuat jutaan keputusan. Tidak selamanya adalah keputusan yang penting, dan juga beberapa diantaranya adalah keputusan yang salah. Waktu masih dibangku pendidikan, apapun yang sudah saya putuskan maka saya akan ngotot mempertahankannya. Entah itu benar atau salah. Ketika saya menjadi semakin dewasa, saya mulai menjadi sangat objektif dan sangat berhati-hati saat mengambil keputusan apapun. Namun, saya belajar untuk bertangggung-jawab atas semua keputusan yang sudah saya ambil.

Saya pikir-pikir, tidak semua keputusan saya yang salah mampu saya perbaiki, namun ketika mendengar kata-kata sahabat saya itu, saya merasa bahwa dibeberapa masalah yang telah saya timbulkan, saya telah berputar kembali dari keputusan-keputusan yang salah kepada keputusan yang benar.

Saya teringat ketika masih bekerja di Papua, saya (dengan membawa predikat sebagai seorang sarjana lulusan Jakarta) memberlakukan sistem yang saya anggap benar, baik itu sistem pembukuan, sistem pembayaran, dan sebagainya karena saat itu saya adalah staf keuangan. Memang hal itu benar, tetapi tidak dilakukan ditempat yang tepat. Para pekerja dan mitra kami adalah orang-orang Papua yang berasal dari pegunungan. Saat itu pengetahuan saya tentang orang-orang pegunungan Papua sangat minim karena saya besar di daerah pesisir pantai Papua, disebuah pulau kecil di utara Papua. Saya tidak mengerti bahwa mereka tidak mengerti tentang penjelasan pembayaran yang saya buat. Saat itu saya menulis tanda (-) atau minus di perincian pembayaran mereka yang artinya jumlah pengambilan mereka diperusahaan lebih besar dibanding jumlah barang (hasil hutan) yang mereka hasilkan bagi perusahaan. Rupanya mereka tidak mengerti tanda (-) atau minus, mereka lebih mengerti jika ditulis rugi. Mereka berpikir bahwa saat itu mereka akan dibayar senilai dengan angka yang dituliskan setelah tanda minus itu. Akhirnya, perusahaan saya harus membayar Rp.23.000.000 pada para pekerja yang tengah mengamuk itu. Bos saya marah (tentunya), namun saya bertahan pada pendapat saya bahwa yang saya lakukan itu sudah benar. Beberapa lama kemudian, saya menyadari bahwa hal benar itu saya lakukan ditempat yang salah. Saya memutuskan untuk mengubah cara kerja saya dengan melakukan hal-hal yang dimengerti oleh pekerja saya, dan juga melakukan komunikasi dan bernegosiasi dengan gaya yang dimengerti oleh mereka. Tidak beberapa lama saya sudah tidak menduduki posisi sebagai seorang staf lagi melainkan sudah mampu naik sebagai Kepala Bagian PR dan juga menjadi seorang manajer. Saya harus bertemu dengan banyak orang, namun saya tidak minder berdialog dengan para CEO perusahaan besar lokal atau asing. Uniknya saya belajar melakukan negosiasi justru dari pengalaman saya bernegosiasi dari orang-orang pegunungan Papua, yang beberapa diantaranya masih buta huruf. Bagaimana saya membuat mereka mengerti dan menerima apa yang perusahaan inginkan dan putuskan. Saya belajar untuk melakukan hal-hal yang benar ditempat yang juga benar, meskipun hal-hal itu adalah hal yang sederhana. Semua itu karena saya mau mengaku telah membuat keputusan yang salah dan berputar kembali untuk mengambil keputusan yang benar.

Saya juga teringat ketika saya dengan paksa disekolahkan oleh orang-tua saya disebuah SMA swasta di Sulawesi Utara. Saat itu saya masuk asrama sekolah dan berada disana selama tiga tahun. Saya mengalami apa yang disebut shock culture karena logat kami dan kebiasaan dan juga budaya kami sangat berbeda. Saya memang orang asli Sulawesi Utara tetapi saya dibesarkan di Papua. Di Papua saya tinggal di pulau kecil yang tiap hari kami akan melihat dan menikmati pantai, sedangkan lokasi sekolah saya di Sulawesi Utara berada di pegunungan. Baru satu minggu di asrama, saya langsung jatuh sakit. Saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan juga budaya mereka, sehingga saya memutuskan menutup diri dan tidak mau memiliki banyak teman (karena takut diejek.) Saat itu saya tidak menyadari bahwa ketika mereka mengejek saya, sebenarnya karena mereka penasaran dengan gaya bicara saya dan kebiasaan saya dan juga dengan aliran kepercayaan saya (walaupun sama-sama Kristen namun kami berasal dari aliran yang berbeda). Saya menutup diri selama dua tahun, hingga akhirnya setelah sahabat saya yang selalu sekamar dengan saya yang berada satu tahun diatas saya (senior saya) tamat sekolah dan harus meninggalkan saya di asrama (sendirian). Mulanya saya sangat stres, Namun, saya memutuskan untuk belajar membuka diri dan berteman. Hasilnya, di masa satu tahun terakhir saya di SMA, saya jutru mendapatkan kembali banyak teman yang dulunya saya anggap mengabaikan saya, dan juga saya mendapat lebih dari satu orang yang menjadi sahabat saya hingga kini. Saya berhasil menikmati keadaan yang berbeda dan jauh lebih baik setelah saya memperbaiki sebuah keputusan salah yang pernah saya buat.

Saya juga teringat ketika saya memutuskan untuk memberikan uang saya saya dapatkan untuk membayar biaya masuk kuliah adik saya yang memilih kuliah di fakultas kedokteran, akibatnya kuliah S2 saya di Korea Selatan menjadi tertunda (bukan gagal). Banyak rekan-rekan kerja ayah saya berkata bahwa kami sungguh bodoh karena memasukkan adik saya ke universitas yang biaya masuknya sangat mahal (lebih dari Rp.200.000.000). Mereka tertawa dan berkata kalau universitas anak-anak mereka lebih murah dan nanti kalau lulus semua sarjana itu sama. Hati ayah saya sungguh panas, dan kami sempat bertengkar karena saya lah yang mati-matian mendukung adik saya masuk ke universitas itu. Saya kesal namun saya tidak menyesal, bagi saya itu adalah salah satu keputusan yang paling tepat dan terbaik dalam hidup saya. Kini adik saya berkuliah dengan baik di sebuah universitas ternama di Indonesia yang walaupun mahal namun kami tenang karena hampir tidak ada pungutan lain (termasuk praktek yang menggunakan Kadaver dan juga praktek lainnya), hanya buku dan peralatan pribadi yang harus dibeli oleh adik saya, sedangkan para pengejek itu mengeluh karena universitas anak-anak mereka memungut biaya ini itu diluar uang masuk dan uang semester. Kelak, mungkin adik saya akan menjadi satu-satunya dokter dalam keluarga besar ayah saya dan juga ibu saya.

Saya juga berpikir, mengapa dulu saya menganggap diri saya begitu bodoh dengan tidak mengikuti beberapa orang yang saya kenal untuk mengambil jalan pintas. Saat itu saya melihat bahwa orang-orang tersebut lebih sukses dari saya. Namun, kini orang-orang tersebut justru terkena masalah karena cara yang dulu mereka gunakan.

Saya juga berpikir mengapa saya seakan-akan berjalan begitu lama, namun saya bersyukur karena ketika saya melihat banyak orang lain yang dulu berjuang bersama dengan saya telah menyerah, saya justru mampu menambah langkah saya dan melihat titik terang,

Saya tidak menyesal saat memutuskan untuk kuliah di universitas yang saya pilih sendiri, juga mengambil jurusan yang saya inginkan, dan memilih tinggal ditempat kos pertama ketika saya tiba di Jakarta. Mungkin orang-orang berkata bahwa semua pilihan itu adalah pilihan kelas dua atau kelas tiga, namun saya tidak menyesal karena di tempat-tempat itulah saya menemukan orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat terbaik saya hingga kini.

Kini saya bersyukur karena tetap berada dijalan saya, jalan yang saya pilih setelah sebelumnya saya sempat salah memilih jalan, saya memilih untuk berputar dan mengambil lajur yang benar tanpa memilih jalan pintas.


"If you make a bad decision then the next step is you should turn back to the right decision,

if you make a wrong decision without fix it and you keep move with that decision then you will make the wrong decision again and again,

the short way that you think probably is the right way or the better way than the normal way usually is the wrong way,

Never ever thinks a wrong things is the right just because you feel sorry."

Kalimat-kalimat amsal oleh sahabat saya, George Tan.


-Devy.R-

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber gambar:
mad-intellegence.com

Jumat, 29 Mei 2015

RODA





Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bias lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu? Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, ditapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu. Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan, dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam.

Hei....semuanya tampak lain ??

Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak ebih indah. Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya. Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat. 

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang ditabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda. Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika dilihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir ditubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan. 

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.



Kawan, begitulah hidup.

Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa. Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni. Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu.


Teman, coba, susuri kembali jalan-jalan kita.

Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.
Adakah kebahagiaan yang terlupakan? 
Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati?

Kenanglah ingatan-ingatan lalu.
Susuri dengan perlahan.
Temukan keindahan itu.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seluruh Cerita Ini adalah Saduran
Pengarang: Tidak Diketahui
Source picture: circle.cerdasmulia.net