Translate

Rabu, 21 Januari 2015

Nabire, Kota Emas





Saya tidak dilahirkan dan juga tidak dibesarkan di Nabire, namun kini orang-tua saya memilih menetap di Nabire karena pekerjaan. Nabire memiliki lebih banyak Sumber Daya Alam ketimbang kota tempat Saya dibesarkan, yaitu Biak. Di Nabire, Saya bekerja membantu perusahaan orang-tua Saya (PT.Ransun) yang bergelut dibidang forestry (pengumpulan kulit kayu massoia). Saya juga sempat bekerja disebuah perusahaan Agriculture disana. Ketika di Nabire, hampir setiap hari saya menggunakan helikopter ke tempat kerja. Sedangkan saat menuju ke perkebunan, saya lebih memilih menggunakan motor. Dua alat transportasi itu membantu saya melihat pemandangan alam Nabire dari berbagai view. Pemandangan-pemandangan itu ada yang merupakan pemandangan biasa yang dapat kita temukan didaerah lain, dan ada juga pemandangan yang sangat langka.




Kabupaten Nabire adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di punggung Pulau Papua dengan ibu kota di Kota Nabire, dan memiliki beberapa distrik yaitu: distrik Kota Nabire, distrik Makimi, distrik Yaur, distrik Napan, distrik Siriwo, distrik Teluk Kimi, distrik Teluk Umar, distrik Uwapa, distrik Wanggar, distrik Yaro, distrik Nabire Barat, distrik Wapoga, distrik Wadio-Jayanti, dan distrik Nabarua.

Walau kini Saya lebih sering mengunjungi Kota Nabire, namun sebenarnya sedari kecil Saya lebih familiar dengan daerah Wapoga, karena dulu ayah Saya bekerja didaerah itu. 

Nabire memiliki banyak sekali suku, dan masing-masing suku memilik cerita tentang asal-mula nama Nabire. Menurut suku Wate, bahwa kata “Nabire” berasal dari kata “Nawi” pada zaman dahulu dihubungkan dengan kondisi alam Nabire pada saat itu yang banyak terdapat binatang jangkrit, terutama disepanjang kali Nabire. Lama kelamaan kata “Nawi” yang mengalami perubahan penyebutan menjadi Nawire dan akhirnya menjadi “Nabire”. Suku Wate yang terdiri dari lima sub-suku yaitu Waray, Nomei, Raiki, Tawamoni dan Waii yang menggunakan satu bahasa terdiri dari enam kampung dan tiga distrik. Nah, menurut versi suku lain yaitu suku Yerisyam, Nabire berasal dari kata “Navirei” yang artinya daerah ketinggalan atau daerah yang ditinggalkan. Penyebutan Navirei muncul sebagai nama suatu tempat pada saat diadakannya pesta pendamain ganti daerah antara suku Hegure dan Yerisyam. Pengucapan Navirei kemudian berubah menjadi Nabire yang secara resmi dipakai sebagai nama daerah ini setelah ditetapkan oleh Bupati pertama yaitu AKBP. Drs. Surojotanojo, SH (Alm). Namun, suku ini juga memiliki versi lain mengenai asal-usul nama Nabire, yang katanya berasal dari Na Wyere yang artinya daerah kehilangan. Pengertian ini berkaitan dengan terjadinya wabah penyakit yang menyerang penduduk setempat, sehingga banyak yang meninggalkan Nabire kembali ke kampungnya dan Nabire menjadi sepi lambat laun penyebutan Na Wyere menjadi Nabire. Kemudian, menurut suku lain yaitu Suku Hegure, nama Nabire berasal dari Inambre yang artinya pesisir pantai yang ditumbuhi oleh tanaman jenis palem-palem seperti pohon sapu ijuk, pohon enau hutan, pohon nibun dan jenis pohon palem lainnya. Akibat adanya hubungan/komunikasi dengan suku-suku pendatang, lama kelamaan penyebutan Inambre berubah menjadi Nabire.

Sebuah Bendungan di Nabire


Saat Belanda menduduki Papua, Belanda menempatkan pos-pos utama di kota-kota pesisir pantai bagian utara Papua. Hingga tahun 1930 orang belum mengetahui adanya penduduk di Daerah Pegunungan Tengah, demikian pula penduduk daerah ini belum mengetahui adanya Pemerintah yang menguasai wilayahnya. Oleh sebab itu Pos Pemerintahan pertama yang ada di 3 wilayah ini dulu (Nabire, Paniai dan Puncak Jaya) pada masa Penjajahan Belanda sampai tahun 1938 hanya terdapat pada 2 (dua) tempat dipesisir pantai yaitu :

- Pos Pemerintahan yang pertama di Kwatisore (Distrik Yaur sekarang) dibuka pada tahun 1912 oleh Gezaghebberd Welt dari Onder Afdeling di Manokwari.

- Pos Pemerintahan pertama di Napan Weinami setelah Bestuur Assistent dari Serui mengunjungi Napan tahun 1920 dan untuk pertama kalinya ditempatkan Bestuur Assistent bernama A. Thenu di Napan Weinami, wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Pesisir Pantai ke Goni dan Daerah Pedalaman. 

Beberapa tahun kemudian Pemerintah Belanda membuka Onder Distrik di Nabire, yaitu pada tahun 1942, dengan Pejabat Distrik Hooft Bestuur Assistent (H.B.A.) Somin Soumokil.

Pemandangan Sebagian Kota Nabire dari Udara


Kini Nabire berkembang menjadi salah satu daerah teramai di Papua. Nabire memiliki jalan darat yang bagus dan menjangkau banyak daerah terpencil hingga mencapai Enarotali walaupun beberapa daerah diluar kota masih belum diaspal dan hanya mengandalkan jalan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan. Nabire merupakan salah satu daerah di Papua yang memiliki pemukiman transmigrasi terbesar dan terbanyak. Kota ini juga memiliki Bandar Udara dan Pelabuhan Laut. Kota ini juga tertata cukup rapih. Daerah perkantoran pemerintah dan perbankan berada di satu kawasan, dan daerah pertokoan juga disatukan dikawasan khusus pertokoan. Hal ini membuat orang-orang yang baru dikota ini tidak kesulitan. Kota ini juga memiliki hotel-hotel kecil, Gereja, dan Masjid. Sayangnya, setahu Saya kota ini tidak memiliki Wihara dan Pura.


Hutan di daerah Wanggar 


Nabire memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Dulu komoditas yang paling terkenal adalah kayu, dengan daerah-daerah utama penghasil kayu yaitu di Kwatisore dan Wapoga. Saat berada di Wapoga, Saya sering menyusuri sungai dengan perahu motor tempel dan terkadang mampir di beberapa camp kecil ditepi sungai. Saya dan sepupu-sepupu serta beberapa teman saya disana sering bermain dipinggir sungai, dan saat itu kami sering mendapati banyak sekali kayu gelondongan yang hanyut. Saya juga masih ingat saat melihat kapal tackboat kecil menarik tongkang besar yang penuh dengan kayu. Hingga kini, deposit kayu di Nabire masih merupakan salah satu yang terbesar di Papua. Akan tetapi, Nabire lebih dikenal sebagai Kota Emas, karena Nabire memiliki cadangan emas yang luar biasa. Banyak sekali perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Nabire, namun para pendatang domestik yang juga ingin mencari emas adalah orang-orang yang paling bertanggung-jawab atas rusaknya alam disekitar daerah pertambangan.



Salah Satu Area Transmigrasi



Sebuah Upacara Pernikahan Penduduk Asli (pengantin  pria)
yang dulunya berasal dari salah satu suku primitif


Kini penduduk Nabire mulai tertarik untuk memulai usaha dibidang pertanian dan perkebunan. Sudah ada perkebunan jeruk, perkebunan salak, perkebunan durian, persawahan, bahkan perkebunan tanaman atsiri (nilam, massoia/masohi, jahe, akar wangi, dan lain-lain). Para transmigran termasuk orang-orang yang berjasa di bidang ini.


Perkebunan Akar Wangi di area Kalibobo




Salah Satu Perkebunan Nilam di area Legari



Salah Satu Area Persawahan di Legari



Persemaian Pohon Masohi (Massoia) di Kalibobo


Salah satu ironi dari kota ini adalah masih banyak penduduk asli yang hidup dibawah garis kemiskinan ditengah melimpahnya sumber daya alam ditanah mereka sendiri. Hal lainnya adalah masih kurangnya inisiatif penduduk dari golongan tua untuk menumbuhkan minat belajar dan pemahaman akan pendidikan bagi anak-anak mereka, oleh karena itu tingkat dan mutu pendidikan di Nabire masih kurang jika dibandingkan di Biak yang daerahnya jauh lebih kecil dari Nabire, dan juga hampir tidak memiliki sumber daya alam. Ironisnya lagi, pesisir Nabire termasuk daerah di Papua yang cepat mengenal peradaban modern sejak jaman kolonial Belanda, oleh karena itu jika Anda berada di Kota Nabire, Anda akan sangat jarang melihat penduduk asli disana memakai pakaian primitif. 

Meskipun demikian, ada beberapa suku yang masih hidup primitif dan tidak bisa berbicara dengan Bahasa Indonesia. Saya masih ingat saat Saya berada di daerah Wapoga, ketika akan menuju ke daerah Sewa. Daerah Sewa termasuk dalam wilayah distrik Wapoga. Kami harus menyusuri Sungai Wapoga dengan menggunakan perahu motor tempel (jika ingin lebih cepat) atau kapal motor kecil. Ketika menyusuri sungai, banyak sekali suku-suku primitif yang berdiri ditepi sungai dan melihat kami. Mereka tidak mengganggu kami. Saya (saat itu masih di Sekolah Dasar) sering melambaikan tangan, dan mereka-pun membalas dengan lambaian.


Potret keadaan sebagian penduduk asli Nabire


Nabire sangat bergantung pada sumber daya alam sebagai pemasukan terbesar daerah ini, sehingga kota ini kurang memperhatikan potensi lain khususnya dibidang pariwisata, padahal Nabire juga memiliki pemandangan pantai, pemandangan alam, dan potensi pariwisata lainnya yang sangat indah. Pemandangan alam liar di Nabire benar-benar luar biasa. Masih banyak hutan dan sungai yang belum terjamah peradaban modern. Hewan-hewan liar juga masih banyak terdapat di wilayah ini. burung-burung yang dilindungi juga masih memenuhi hutan-hutan di Nabire, dan juga kota ini masih memiliki rusa.





Beberapa sungai di Nabire, seperti Sungai Wapoga, Sungai Sewa, dan Sungai Wanggar juga juga sangat alami. Meskipun warna Sungai Wapoga sangat keruh, namun Sungai Sewa (yang letaknya lebih jauh di pegunungan) yang sungai Wapoga, sangat jernih dan memiliki pemandangan yang sangat indah disisi-sisi sungai tersebut. Itu karena Sungai Sewa memiliki banyak batu-batu cadas didasar sungai dan ditepi sungai. Saat Saya masih bekerja di Nabire, Saya sering bepergian ke tempat kerja dengan menggunakan helikopter dan sering melewati daerah Karadiri dan Wanggar. Pemandangan sungai di daerah Karadiri dan Wanggar dari udara serta hutan disekitarnya terlihat sangat indah. Saya kemudian tertarik untuk menyusuri tepi sungai itu lewat darat. Gabungan dari batu-batu sungai, batu cadas, hutan ditepi sungai, dan langit yang dihiasi oleh sekawanan burung langka yang terbang berkelompok menawarkan pengalaman alam liar yang luar biasa, namun Saya tetap harus berhati-hati karena sungai-sungai itu masih memiliki buaya. Dari helipad kami di Karadiri, Saya dapat melihat pegunungan daerah Menouw yang sering tertutup awan. Sekitar jam 3 sore, pegunungan itu mulai mendung dan sulit dilewati oleh helikopter, namun pemandangan hutan di pegunungan itu sangat indah.




Beberapa Pemandangan Sungai Wanggar dari Udara







Beberapa Pemandangan sungai di area Karadiri






Beberapa Pemandangan Pegunungan di area Menouw dari udara


Sunrise di Nabire juga tidak kalah indahnya. Saya sangat menikmati sunrise Nabire saat Saya dan Ibu Saya dalam perjalanan dari Biak ke Nabire dengan menggunakan kapal fery. Sebelum masuk di pelabuhan fery Nabire, kami harus singgah di Serui (Kabupaten Yapen Waropen). Selepas dari Serui, barulah kapal kami menuju ke Nabire yang tidak begitu jauh dari Serui. Kami memasuki Nabire pada pagi hari, dan saat kapal mulai memasuki wilayah Nabire, para penumpang yang tidak begitu banyak seakan-akan serempak pergi keluar. Saat saya menoleh keluar melalui jendela kapa, sang sunrise menyambut pun menyambut dengan hangatnya. Saya dan Ibu menikmati sunrise ini berdua saja. Mungkin Ibu sudah lupa moment itu, tapi Saya tidak akan pernah melupakannya.


Sunrise di daratan Nabire saat terlihat dari arah Serui




Sunrise di wilayah perairan Nabire


Pantai-pantai di Nabire pun tidak kalah indah. Walaupun kurang dikomersilkan dan beberapa pantai wisata tidak memiliki fasilitas yang memadai namun pantai-pantai disana tetaplah memberikan pemandangan yang menawan. Saat Saya menggunakan sepeda motor untuk menuju ke kebun keluarga di daerah Legari sekaligus pergi ke pabrik perusahaan tempat Saya dulu bekerja, sesekali Saya berhenti pantai yang berada disisi jalan dan di jembatan. Pemandangan pantai dan juga sungai dibawah jembatan tersebut sangat indah dan menarik, terutama saat sunset tiba.

Saya juga sering menikmati sunset sepulang kerja dari daerah Karadiri. Memang saat pergi ke Karadiri, saya sering naik helikopter namun saat pulang, Saya dan Ayah lebih memilih menggunakan jalur darat dengan menggunakan mobil Jeep. Sebenarnya, pohon-pohon dan hutan yang masih rimbun sangat mendominasi pemandangan sepanjang jalan, namun saat memasuki sebuah area rawa-rawa didekat sebuah desa, area yang cukup flat tersebut membuat kami dapat menikmati terbenamnya matahari. Terkadang Saya hanya berdua dengan Ayah, terkadang kami ditemani oleh Ibu, adik-adik, dan salah seorang paman Saya. Kami sering bersenda-gurau sepanjang perjalanan, atau mengkomentari pekerjaan, atau mengomentari orang-orang yang menjengkelkan atau lucu. Jalan yang masih belum diaspal dan berlubang-lubang semakin membuat suasana dalam mobil menjadi sangat riuh.

Sunset di area Karadiri

Saya dan keluarga juga sering berkunjung ke sebuah pantai pribadi di daerah Buratey. Biasanya Kami kesana sepulang gereja. Usai menikmati makan siang ditepi pantai, kamipun berenang di pantai. Seringkali kali Kami juga menggunakan perahu besar milik Ayah Saya yang dilabuhkan di pantai itu untuk mencari ikan di laut. Saat jam menunjukkan 3 sore dan air laut mulai surut, biasanya Saya dan adik-adik serta sepupu-sepupu segera kembali dari laut dan mulai bermain sepak bola hingga matahari hampir terbenam. Lelah bermain sepak bola, Kami pun beristirahat sambil menikmati cemilan atau air kelapa, dan menikmati sunset bersama seluruh keluarga. Terkadang kami melihat kapal-kapal atau perahu-perahu yang lewat. Kebersamaan dengan keluarga dan cahaya matahari saat itu, sungguh merupakan masa-masa yang tak akan terlupakan.

Keceriaan Anak-anak yang sedang bermain Sepak bola
di Pantai Buratey




Beberapa Pemandangan Pantai Buratey ketika air surut


Sebuah Kapal yang melintas tidak jauh dari Pantai Buratey





Beberapa Pamandangan Sunset di Pantai Buratey





Beberapa gambar kenangan bersama dengan Keluarga
ketika berlibur di Pantai Buratey


Cahaya matahari terbit dan matahari terbenam yang berwarna keemasan, ingin menegaskan bahwa kota yang disinarinya adalah Kota Emas.



-Devy.R-
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber data:
www.nabirekab.go.id


Sumber Gambar:
Koleksi Foto Pribadi
wikipedia

4 komentar:

  1. ceritanya tentang kota nabire, bagus sekali...
    jadi kangen dengan kota kelahiranku..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam,
      Terima kasih telah berkunjung... Wah, kelahiran Nabire ya mas..
      Saya tidak lahir di Nabire, tapi pernah bekerja di Nabire.
      Semoga tulisan ini bermanfaat.

      Hapus
  2. Makasih. Menambah pengetahuan saya mengenai kota nabire. Kami akan pindah sementara ke nabire karna mutasi dr kantor suami

    BalasHapus
  3. Bagus skli ceritanya.suami dy skrg lg merantau kesana .mencari rezeki disana.tp blom dpt pekerjaan.ada kah lowongan kerja yg kk tau terbaru di kota Nabire.terima kasih

    BalasHapus

INI BUKAN HIMBAUAN TAPI PERATURAN:

1.DILARANG melecehkan Suku, Agama, dan Ras tertentu.

2.DILARANG memplagiat artikel ini! Cantumkan link lengkap artikel ini dalam daftar sumber anda (jangan meng-copy 100% isi tulisan ini. Jadilah penulis yang kreatif).